Cara mandi wajib – Ini adalah mandi ketika seseorang berjunub atau ketika seseorang dalam keadaan berhadas besar. Hadas besar yang di maksud adalah seperti berhubungan badan suami isteri, haidh, nifas, dan keluar mani baik laki-laki atau perempuan.

Panduan Tata Cara Mandi Wajib

Dalam artikel kali ini kita akan membahas tata cara mandi junub ini serta penyebabnya, rukun dan langkah-langkah dalam melakukan mandi ini.

Setelah membaca artikel ini di harapkan pembaca bisa memprakatekkan mandi wajib yang benar, sah dan sempurna sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Ok, langsung saja kita masuki dalam pembahasan pertama mandi wajaib ini, yaitu penyebab-penyebabnya.

Penyebab Mandi Wajib

mandi wajib adalah perkara bersuci yang cukup penting karena tanpa mandi wajib, seseorang yang berhadas besar tidak akan bisa menjalankan kewajiban ibadahnya seperti shalat, puasa dan ibadah lainnya seperti membaca al-Quran dll. Maka mandi wajib adalah hal utama yang harus di pelajari oleh mukallaf atau orang yang sudah baligh.

Penyebab seseorang wajib mandi junub atau mandi wajib adalah karena beberapa hal, diantaranya:

1. Bergaul atau Melakukan Jimak

Jika suami isteri sudah melakukan perkara ini maka wajib atasnya untuk mandi wajib, apakah bersetubuh tersebut menyebabkan keluar mani atau tidak.

Patokannya adalah bertemu dua khitan atau kemaluan laki-laki dan perempuan, ini sudah wajib atau keduanya untuk mandi junub atau mandi hadas besar.

Bersetubuh secaran istilah syara’ adalah memasukkan zakar kedalam faraj wanita dengan kadar hasyafah (kadar bagian yang di sunnat), maka sudah mewajibkan mandi baik keluar mani atau tidak.

Dalam hadist Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: Apabila bertemu dua khitan, maka wajiblah mandi

2. Keluar mani

Penyebab wajib mandi selanjutnya adalah keluar mani. Keluar mani atau sperma tidak harus bertemu dua khitan atau bersetubuh, apapun perbuatan yang menyebabkan mani keluar, maka wajib atasnya untuk mandi, bahkan apabila ia bermimpi dan keluar spermanya.

3. Mati yang bukan syahid

Selanjutnya, yang mewajibkan mandi adalah mati ataau meninggal dunia. Namun kewajiban ini terpundak atas mereka yang mukallaf dan masih hidup. Karena tidak mungkin ini wajib atas mayat, mati atau meinggal adalah penyebab seseorang tidak lagi taklif hukum syara’ padanya.

Namun, mati ini adalah yang bukan syahid, sementara mati syahid atau mati di jalan Allah tidak wajib atas muslim lainnya memandikannya bahkan haram hukumnya memandikan orang mati syahid.

Mati syahid disini adalah meninggal dalam perang membela Agama Allah seperti meninggal dalam perang dengan kafir harbi (kafir yang menyerang ummat Islam).

Bagi orang syahid, tidak boleh di mandikan bahkan haram karena bekas darah pada tubuhnya akan menjadi saksi di akhirat bahwa ia orang syahid di jalan Allah.

4. Datang bulan (haidh)

Ini adalah perkara yang terjadi pada wanita saja. Wanita baligh di tandai dengan beberapa hal dan salah satunya adalah keluar haidh. Wanita yang sudah berusia 9 tahun minimal dan keluar haidhnya maka ini mennjadi pertanda bahwa ia sudaha baligh. Nah, keluar haidh ini mewajbkan atasnya mandi junub atau hadas besar manakala haidh tersebut sudah berhenti.

Masa haidh bagi wanita biasanya 6-7 hari, sebahagiannya ada yang sehari semalam, dan ada juga yang memiliki masa haidh terbanyak yaitu 15 hari dan malamnya. Nah, setelah haidh ini berhenti, ia mesti mandi wajib.

5. Nifas

Nifas adalah darah yang keluar beiringan dengan lahirnya bayi. Nah, darah ini disebut dengan darah nifas dan ketika darah ini berhenti wajib atas perempuan tersebut untuk mandi wajib (janabat).

Darah nifas juga memiliki masa-masa tertentu sesuai dengan kebiasaan darah haidh-nya (kebiasaan). Se sedikit-sedikit darah nifas adalah se-lahdhah (sekecup mata), kebiasaan daarah haidh adalah 40 hari dan sebanyak-banyak darah haidh adalah 60 hari dan malamnya.

6. Wiladah (melahirkan)

Melahirkan juga bisa menyebabkan seseorang mandi wajib. Jadi mandi wajib disini bukan karena ia sudah mengeluarkan darah nifas (beriringan dengan lahiran) melainkan karena lahirnya anak atau keluarnya bayi.

Jadi, maksudnya adalah jika bayi tersebut lahir dan darah nifas tidak ada, tetap saja perempuan tersebut harus mandi wajib karena wiladah.

Namun fakta dan kenyataan yang biasa terjadi adalah seseorang yang wiladah pasti ada darah nifasnya. tetapi bukansuatu yang mustahil bahwa seseorang bisa melahirkan anak tanpa keluarnya nifas, Allah maha kuasa atas segala-gala.

Itu dia beberapa penyebab mandi wajib. Jika salah satu dari haal di atas terjadi maka kita wajib mandi junub atau mandi hadas besar. Jika belum melakukan mandi besar (wajib) maka haram atas orang yang berjunub atau orang yang berhadas besar untuk shalat, membaca al-Quran, puasa dan lain-lain.

Rukun Mandi Wwajib

Rukun adalah sesuatu yang menyebabkan sesuatu yang lain tidak sah tanpanya, dan ia adalah bagian dari sesuatu tersebut. Contohnya adalah membaca faatihah dalam shalat, ini adalah rukun karena tanpanya shalat tidak sah dan ia (fatihah) adalah bagian dari perbuatan shalat itu sendiri.

Ok, sekarang kita akan melihat apa saja rukun mandi wajib sehingga sah mandi wajib yang kita lakukan. Ada dua rukun madi junub yaitu:

1. Niat rafa’ hadas besar

Ini adalah niat yang wajib ada dalam hati kita bahwa kita merafa’ atau menghilangkan hadas besar pada tubuh kita. Jadi, begitu jatuhnya air pada tubuh maka niat mandi tadi harus muncul.

Jika tidak, atau jika niat baru muncul dalam hati setelah membasuk sebagian dari tubuh, maka anggota tubuh yang sudah di basuh sebelum niat harus di basuh kembali.

Berikut niat mandi wajib dengan bahasa Arab

niat mandi wajib bahasa arab

NAWAITU RAF’AL HADASIL AKBAR LILLAHITA’ALA

Artinya: Sahaja aku mengangkat hadas besar karena Allah SWT.

Itu adalah lafadh niat mandi wajib, yang wajib kita lakukan adalah niat dalam hati seperti lafadh niat tersebut. namun anda tidak mesti meniatkan dengan bahasa Arab, apapun bahasa bisa digunakan untuk meniatkan mandi.

2. Membasuh seluruh tubuh

Rukun yang kedua atau hal yang tidak boleh di tinggalkan adalah meratakan air keseluruh tubuh. Jika air tidak rata keseluruh tubuh karena ada lem, lilin, getah dll pada kulit maka mandi wajibnya tidak sah. Jika mandi wajib tidak sah maka ibadah yang mewajibkan suci dari hadas besar tidak sah di kerjakan seperti shalat dan lain-lain.

Membasuh seluruh tubuh atau meratakan tubuh dengan air termasuk meratakan air ke seluruh bagian rambut yang tebal, atau jenggot yang tebal dan lain-lain.

Termasuk juga meratakan air kee kemaluan perempuan pada batasan dhahir (bagian yang nampak ketika wanita duduk qadha hajat), bagian telinga bagian dhahir dan hidung bagian dhahir. Demikian juga wajib meratakan air ke bagian dubur atau anus pada bagian dhahir yaitu bagian yang nampak ketika qddha hajat.

Jadi, apabila ada lilin, lem, getah, dan segala benda yang menyebabkan terhalang air ke kulit maka harus di hilangkan agar air terkena kulit dan sah mandi wajibnya. Jika tidak, maka tidak sah mandi wajibnya.

Perkara Wajib dan Sunnat dalam Mandi Junub

Perkara Wajib:

  • Niaat dan membasuh seluruh tubuh dengan air.

Perkara sunnat:

  • Membasuh kedua tangan diluar bejana
  • Membasuh kotorana dan kemaluan dengan tangan kiri
  • Berwudhu’ sebelum mandi
  • Membasuh setiap bagian tubuh tiga kali, membasuh pihak kanan (3X), bagian kiri (3x) dan tengah 3x
  • Membasuh tubuh bagian kanan dulu baru kiri
  • Menggosok-gosok bagian tubuh
  • Menyelat-nyelat (menggosok-gosok) bagian lipatan dari tubuh

Panduan Cara Mandi Wajib, Langkah demi Langkah

Hal pertama yang dilakukan dalam mandi junub adalah niat, karena segala perbuatan itu tergantung pada niatnya. Rasulullah SAW Bersabda:

Innamal a’malu bin niat

Artinya: Segala amal itu dengan niat

Maka mandi junub-pun wajib ada niat untuk sahnya perbuatan mandi tersebut. Niat mandi harus muncul ketika air mengenai tubuh. Jadi, langkah mandi wajib bisa di buat sebagai berikut:

  • Niat ketika air sampai ke badan
  • Membaca bismillah
  • Mencuci tangan tiga kali: Ini sebagaimana Rasulullah SAW melakukan mandi, beliau terlebih dahulu membasuh kedua tangannya tiga kali.
  • Membasuh kemaluan dengan tangan kiri: Ini juga sebagaimana yang di lakukan oleh Rasulullah SAW.
  • Berwudhu’: Boleh di lakukan ssebelum mandi atau sedang mandi, jikaa berwudhuh ketika mandi boleh kakinya di basuh setelah selesai mandi
  • Memebasuh rambut secara merata hingga kulit kepala.
  • Membasuh kepala dengan mendahulukan bagian kanan, demikian juga membasuh badan
  • Meratakan air pada seluruh anggota tubuh tapa kecuali

Note: Wudhu’ ketika mandi junub bukanlah wudhu’ merafa’ hadas melainkan wudhu’ sunnat mandi junub

Beberapa Mandi Sunnat

Selain dari mandi wajib atau junub ada juga mandi yang hukumnya sunnat. Inilah beberapa mandi yang hukumnya sunnat.

  • Mandi karena menghadiri shalat jum’at
  • Mandi dua hari raya, fitri dan adha, disunnatkan mandi sejak subuh
  • Mandi sesudah memandikan jenazah
  • Mandi ketika sembuh dari gila: Jika anda gila dan sembuh, sunnat untuk mandi
  • Mandi setelah berbekam
  • Mandi kerena hendak ihram
  • Sunnat mandi karena hendak masuk ke Makkah
  • Mandiu karena akan wukuf di Arafah

Kesimpulan Mandi Junub

Mandi junub atau mandi wajib adalah asas dan dasar dalam bersuci. Jika mandi wajib tidak sesuai dengan peraturan yang sudah di jelaskan dalam fiqh maka tidak sah mandinya. Misalnya ada bagian tubuh yang tidak terkena air karena ada lilin ataua lem, maka tidak sah mandi tersebut, dan semua ibadah yang di kerjakan tidak sah (selama ibadah tersebut mewajibbkan suci dari hadas kecil dan besar)

Jadi, ini adalah pondasi semua amal dan ibadah, tanpa mandi yang sah dan benar maka semua amal rugi dikerjakan karena tidak sah.

Oleh karena itu, perkara mandi waajib adalah masalah penting dan urgen untuk di ketahui sehingga praktek mandi tidak salah. Maka, jika ada hal lagi yang belum mengerti tentang mandi ini, hendaklah di tanyakan kepada ustaz dan guru pesantren agar kita bisa bersuci dari hadas besar secara benar dan tepat.