Hadist Tentang Menuntut Ilmu
ponpesukhuwwahislamiyyah.com

Menuntut ilmu adalah kewajiban terhadap setiap muslimin dan Muslimat. Banyak hadist yang menjelaskan tentang hukum menuntut ilmu terutama ilmu agama. Ilmu agama adalah sarana untuk bisa mengamalkan agama itu sendiri yang berisi syariat-syariat seperti perintah dan larangan Allah.

Semua syariat dan beribadah ada tata caranya dan semua ini mustahil bisa melaksanakan tanpa mengetahui atau tanpa ilmu tentang tata cara itu. Maka menuntut ilmu atau mencari ilmu agama itu wajib hukumnya atas setiap mukallaf karena syariat itu di bebankan kepada semua orang mukallaf.

Kewajiban Menuntut Ilmu

Ibadah hukumnya wajib, tidak bisa beribadah tanpa ilmu, maka mencari ilmu itu hukumnya wajib. Ini disebut dalam kaidah للوصائل حكم المقاصد yang artinya terhadap perantara itu diberikan hukum tujuan. Jika dalam kasus ibadah ini, maka yang menjadi wasail adalah Ilmu pengetahuan tentang tata cara ibadah, dan maqasid atau tujuan adalah ibadah. Nah, jika ibadah itu hukumnya wajib maka wasail juga hukumnya wajib, sehingga pelaksanaan ibadah itu bisa terlaksana.

Untuk itulah maka banyak dalil yang menunjukkan wajibnya seorang hamba Allah ini menuntut ilmu agama dimana saja dan kapan saja. Bahkan dalam sebuah hadist di katakan “kewajiban menuntut ilmu itu dari ayunan hingga liang kubur”, artinya kewajiban kita dalam menuntut ilmu di mulai sejak kecil hingga kita meninggal, begitu pentingnya menuntut ilmu pengetahuan dan terutama yang dimaksud dalam itu adalah ilmu akhirat bukan ilmu dunia. Karena tanpa ilmu akhirat seseorang sudah pasti binasa di akhirat, namun tanpa ilmu dunia seseorang belum tentu binasa di dunia.

Jadi, alasan di wajibkan mencari ilmu agama ini kuat dan logis, karena tujuan hidup di dunia bukan untuk dunia melainkan untuk akhirat. Ada sebuah ungkapan yang sangat penting kita simak tentang kehidupan dunia ini.

“Dunia diciptakan untuk kita, tetapi kita tidak di ciptakan untuk dunia melainkan untuk akhirat”

Apa arti ungkapan tersebut? Dunia di ciptakan untuk kita artinya agar kita menggunakan kehidupan dunia ini dengan sebaik-baiknya untuk mencari bekal buat kehidupan akhirat kelak yang kekal abadi. Namun perlu kita pikirkan bahwa kita tidak diciptakan untuk dunia, maka kita wajib menggunakan waktu untuk masa depan yang hakikat yaitu kehidupan setelah kematian.

Andaikata manusia ini diciptakan untuk dunia, sungguh Allah membuat kehidupan ini tanpa kematian. Fakta-nya, Allah menciptakan manusia dengan kematian. Maka, jelas bahwa hidup didunia adalah untuk kepentingan akhirat. Dunia ini sangat penting keberadaannya bagi manusia agar manusia bisa mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan akhirat yang kita imani dan yakini.

Untuk lebih memahami tentang pentingnya menuntut ilmu Agama, maka dalam tulisan ini kami akan membagikan hadist hadist Rasulullah SAW. yang berkenaan dengan penting bahkan wajib menuntut ilmu. Maksud ilmu dalam hadist adalah ilmu akhirat bukan ilmu dunia, karena akhirat lah tujuan sesungguhnya. Ada satu ungkapan lagi yang sangat menyayatkan hati dan membuat kita berulang kali memikirkan kehidupan sesungguhnya.

“Jika sengsara didunia, maka sengsara-nya hanya sementara. Namun jika sengsara di akhirat, maka sengsara nya selama-lamanya”

Lagu pula, tidak ada orang yang sengsara didunia ketika ilmu akhirat ia miliki. Orang paham agama tidak akan menderita di dunia tetapi justru ia akan bahagia baik di dunia maupun akhirat. Namun orang yang tidak paham agama, tidak beribadah sesuai anjuran dan perintah ia belum tentu bahagia di dunia, andaikan ia  dianggap bahagia (dianggap), di akhirat sudah pasti ia menderita. Maka hal wajib bagi semua mukallaf adalah mencari kehidupan akhirat atau beribadah buat kehidupan akhirat. Silahkan kita mencari kehidupan dunia tetapi jangan sampai membuat kita terhalang untuk mencari kehidupan akhirat. Mencari bekal hidup dunia sekadar untuk bisa hidup, maka ini adalah kewajiban tetapi jangan membuat hidup didunia melupakan-mu untuk akhirat karena akhirat adalah kehidupan sesungguhnya.

Hadist Tentang Menuntut Ilmu

Langsung saja kita lihat hadist-hadist tentang menuntut ilmu, agar kita lebih paham dan mengerti tentang anjuran menuntut ilmu.

Sebelum kita lihat hadist tentang menuntut ilmu, ada juga ayat tentang pentingnya ilmu atau tingginya derajat orang berilmu. Allah berfirman dalam Q.S Al-Mujadalah ayat 11.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖوَإِذَاقِيلَ انْشُزُوافَانْشُزُوا يَرْفَعِ الله الذِيْنَ امَنُوا مِنـْكُمْ وَالّذِيْنَ اُوتُو الْعِلْمَ دَرَجَـتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْـمَلُـوْنَ خَـبِيْـر

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,”Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. (Q.S Al-Mujadalah ayat 11).

Dari ayat itu kita paham bahwa orang berilmu itu mendapat kedudukan tersendiri di sisi Allah karena orang berilmu paham bagaimana tata cara beribadah sebagaimana yang di perintah Allah. Hanya dengan cara menuntut ilmu kita bisa mengerti cara beribadah. Maka mari kita galak-kan menuntut ilmu di dayah-dayah, di pesantren-pesantren karena mencari ilmu agama adalah sebuah kewajiban terhadap semua hamba Allah.

Berikut beberapa hadist tentang pentingnya menuntut ilmu pengetahuan.

اطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْد

“Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”

يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ

“Wahai Abu Zar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah, itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan sholat seratus rakaat. HR.Ibnu Majah

تَعَلّمُواالعِلْمَ وَتَعَلّمُوْا لِلْعِلْمِ السّكِيْنَةَ وَالْوَقَا رَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلّمُوانَ مِنْهُ

Artinya :”Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya”. HR.At-Tabrani.

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبُ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Artinya : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi)

مٍطَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

مَْن سَلَكَ طَرِْيقًا َيلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا ِإلىَ اْلجَنَّةِ (رواه مسلم

Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim)

 (مُجَالَسَةُ الْعُلَمَاءِ عِبَادَةٌ . (الديلمى  

“Duduk bersama para Ulama adalah ibadah.” (HR. Al-Dailami)

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ ، إِكْرِامَ الْعِلْمِ وَ الْعُلَمَاءِ ، وَذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ ، وَإِكْرَامَ حَمَلَةَ الْقُرْاَنِ وَ أَهْلِهِ ، وَ إِكْرَامَ السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ . (ابوداود والطوسى 

“Termasuk mengagungkan Allah ialah mengormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al-Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil” (Abu Dawud, dan al-Thusiy)

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, niscana akan difahamkan tentang urusan agamanya.”

(مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ . (أبو داود 

“Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan dating pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka.” (HR. Abu Dawud)

اَلْعَالِمُ إِذَا أَرَادَ بِعِلْمِهِ وَجْهَ اللَّهِ تَعَالَى هَابَهُ كَلُّ شَيْئٍ ، وَاِذَا اَرَادَ أَنْ يَكْنِزَ بِهِ الْكُنُوْزَ هَابَ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ . (الديلمى 

“Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka ia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu.” (HR. Al-Dailami)

(إِنِّى أَخَافُ عَلَى اُمَّتِيْ أَعْمَالاً ثَلاَثَةً : زَلَّةُ عَالِمٍ ، وَحُكْمُ جَائِرٍ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ . ( الشهاب 

“Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hokum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan.” (as-Syihaab)

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

“Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Apabila manusia telah meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.”[HR. Muslim]

(تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ ( رَواهُ الطَّبْرَانِيْ 

Artinya: “Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ ، إِكْرِامَ الْعِلْمِ وَ الْعُلَمَاءِ ، وَذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ ، وَإِكْرَامَ حَمَلَةَ الْقُرْاَنِ وَ أَهْلِهِ ، وَ إِكْرَامَ السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ . ( ابوداود والطوسى 

“Termasuk mengagungkan Allah ialah mengormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al-Qur’an dan ahlinya, serta penguasa yang adil (Abu Dawud, dan al-Thusiy)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Orang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”

(إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ . ( البيهقي  

Artinya: “Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat.” (al-Baihaqy)

(تَنَاصَحُوْا فِى الْعِلْمِ ، وَلاَ يَكْتُمْ بَعْضُكُمْ بَعْضُا ، فَإِنَّ خِيَانَةً فِى الْعِلْمِ أَشَدُّ مِنْخِيَانَةٍ فِى الْمَالِ . ( ابو نعيم 

“Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya dari pada berkhianat dalam harta.” (Abu Nu’ai)

‏الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ومَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا‏

Artinya : Dunia ini adalah dilaknat. Dilaknat apa yang didalamnya kecuali berzikir kepada Allah Taala dan apa yang menurut kehendakNya, dan orang yang alim atau orang yang belajar. (HR At-Tirmizi)

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِع

Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia di dalam sabilillah sehinggalah dia pulang. (HR At-Tirmizi)

عن معاذ بن أنس , أنّ النّبـيّ صلّى الله عليه وسلّم قال : ” من علّم علما, فله أجر من عمل به , لا ينقص من أجر العامل”

Dari Mu’adz bin Anas Radhiyallahuطanhu, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa mengajarkan ilmu, maka baginya pahala seperti orang yang mengamalkan ilmu nya dan tidak akan mengurangi pahala orang yang melakukan amal tersebut.” [Hasan: Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah]

يَا أَبَاذَرٍّ ، لَأَنْ تَغْدَوْا فَتُعَلِّمَ اَيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَّكَ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ ، وَلَأَنْ تَغْدُوْا فَتُعَلِّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ اَوْ لَمْ يُعْمَلْ ، خَيْرٌ مِنْ اَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ . (ابن ماجة)

“Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu dari pada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu rakaat”. (HR. Ibnu Majah).

Demikianlah hadist hadist tentang menuntut ilmu, semoga menambah pengetahuan kita tentang pentingnya mencari ilmu akhirat selama hidup didunia yang fana ini.