Sifat-Sifat yang Wajib pada Allah
elsholat.com

Sifat wajib pada Allah adalah sifat kamalaat atau kesempurnaan pada Allah yang jumlahnya tidak terhingga. Namun sifat yang di sebutkan dalam al-Quran hanya 20 sifat saja, sehingga 20 sifat ini mmenjadi pondasi akidah atau dasar-dasar dalam mengenal Allah SWT. Oleh karena itu, wajib atas semua mukallaf mengenal dan mengetahui sifat yang wajib (secara ‘aqli) pada Allah, karena jika tidakk, maka mustahil seseorang tersebut mengenal Allah.

Padahal, hukum mengenal Allah adalah wajib karena tidak sah Ibadah seseorang jika ia tidak paham atau tidak kenal siapa Tuhan yang di sembahnya. Maka, satu-satunya cara mengenal Allah adalah dengan mengenal sifatnya dan asmaul husna (Nama-nama Indah Allah).

Sifat-Sifat Wajib pada Allah Serta Dalilnya

Sebelum kita masuk dalam pembahasan sifat wajib bagi Allah, ada hal yang perlu kita pahami, yaitu makna wajib. Pengertian wajib disini bukan seperti dalam kitab fiqih yang diartikan dengan “Sesuatu yang dikerjakan mendapat fahala dan di tinggalkan mendapat dosa”. Namun pengertian wajib disini adalah wajib secara akal atau wajib ‘aqli.

Wajib ‘aqli adalah sesuatu yang tidak terlintas di pikiran kita bahwa sesuatu itu tidak ada. Tetapi ia mesti ada, dengan kata lain pikiran manusia tidak membenarkann jika sifat itu tidak ada pada Allah. Kalau belum paham, kita lihat contohnya berikut ini.

Contoh: Allah wajib bersifat ‘ilmu, artinya ilmu itu adalah sifat yang tidak terpikir pada pikiran kita bahwa ia tidak ada pada Allah, tetapi ia mesti ada pada Allah, maka ‘ilmu ini adalah sifat wajib pada Allah secara akal. Maka kita pahami bahwa makna wajib dalam pembahasan sifat 20 pada Allah adalah “wajib ‘aqli”.

Ok, jika sudah paham tentang ini, sekarang kita bisa masuk dalam pembahasan sifat 20 yang wajib bagi Allah SWT. Kita jelaskan satu persatu, namun bukan berarti sifat Allah ini tertib atau berurutan dari nomor satu hingga 20, namun tidak mungkin bagi kita makhluk (manusia) untuk menjelaskannya dengan tidak berurutan karena hakikat kalam atau bahasa manusia adalah ada awal dan ada akhir.

1. Wujud (ada)

Tentang sifat wujud terjadi khilaf pendapat ulama, ada yang mengatakan wujud adalah diri zat yang maujud itu dan berdasarkan pendapat ini, wujud tidak dianggap sebagai sifat, ini adalahh pendapat Syeikh Abu Hasan al-Asy’ari.

Sementara pendapat lain yaitu pendapat Abu mansur al-maturidi (Namanya Muhammad), beliau mengatakan bahwa wujud itu adalah sesuatu yang zaid atau berada pada zat, maka berdasarkan pendapat ini, wujud adalah sifat.

Yang wajib atas mukallaf adalah beriman dan mengi’tiqad bahwa Allah itu Wujud (ada), kita tidak di wajibkan untuk mengetahui apakah wujud itu zat atau sifat.

Dalil Wujud Allah

Dalil ada Allah adalah membuat alam dari tidak ada ada. Jika kita mengatakan alam ini terjadi dengan sendirinya, maka sungguh beerhimpunlah (menyatu secara pemahaman) bahwa rujhan (kuat) dan istiwa’ (sama) adalah sama. Karena wujud alam (fakta adanya alam) dan tidak wujud (adam) adalah sama atau sebanding. Dan ini tidak mungkin di terima oleh akal manusia.

Sementara jika kita mengatakan adanya alam ini sebelum ada adalah kuat dengan sendirinya kepada “ada” dibandingkan kepada “tidak ada” tanpa ada murajjih atau tanpa ada yang menguatkan, maka ini lazim kepada bersatunya dua yang bertentangan yaitu wujud dan ‘adam (tidak wujud), ini adalah mustahil secara akal.

2-3. Qidam dan Baqa’

Sifat wajib pada Allah dan wajib ketahui selanjutnya qidam dan baqa. Qidam artinya tidak awal pada wujud Allah, atau wujud Allah itu tidak di awali oleh tidak ada terlebih dahulu baru kemudian ada. Bisa juga dikatakan bahwa Allah ada tanpa permulaan.

Sementara baqa adalah Allah ada tanpa ada akhiran, atau eksistensi Allah tidak di liputi oleh akhir atau penghabisan. Allah maha kekal yang akan pernah musnah atau keberadaannya kontinue tanpa akhir.

Dalil Allah bersifat qidam

Jika kita mengatakan Allah tidak qidam, maka tentu Allah haadis (baharu), sesuatu yang baharu tentu butuh kepada yang membaharukan, yang membaharukan ini baharu dan ia juga butuh kepada pembaharu yang selanjutnya, hingga seterusnya, ini disebut tasalsul, atau bisa juga terjadi Daur (berputar seperti rantai saling membutuhkan).

Tasalsul dan daur adalah mustahil pada Allah secara akal, jika ini sudah muustahil, maka sebutlah qidam pada Allah. (rujuk syarqawi ala hud hudi)

Dalil Allah bersifat Baqa

Sebagaimana kita tahu bahwa baqa adalah tidak ada akhir terhadap wujud Allah. Jadi, jika Allah berakhir atau punya akhirnya, maka lazim-lah Allah satu bagian dari Mumkinat (sesuatu yang boleh ada boleh tidak ada: makhluk). Tiap-tiap mumkinat, wujudnya pasti hadisan atau baharu. Allah maha suci dari demikian baharu.