Tata Cara Sholat Jenazah
thegorbalsla.com

Sebelum kita membahas tata cara sholat jenazah, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu shalat jenazah dan bagaimana hukumnya. Shalat jenazah adalah shalat yang hukumnya fardhu kifayah. Ini adalah lawan daari fardhu ‘ain, jika fardhu ‘ain itu artinya khitab (perintah) wajib atau per-individu maka fardhu kifayah adalah khitab (perintah Allah) yang wajib dilaksanakan, walau dilakukan oleh satu orang saja. Jika sudah dilakukan oleh satu orang maka kewajiban terhadap orang lain sudah terlepas, artinya orang yang tidak melakukannya tidak lagi berdosa. Namun jika tidak dilakukan oleh seorang pun maka bisa menyebabkan dosa bagi sekampung manusia.

Namun demikian, yang terbaik adalah di lakukan oleh banyak orang. Semakin banyak yang melakukan shalat jenazah tentu do’a bagi mayit semakin banyak dan ini semakin bagus. Jadi, untuk melaksanakan shalat jenazah tentu kita harus tahu bagaimana prosedurnya dan tata cara shalat jenazah itu sendiri. Insya Allah dalam artikel ini, kita akan bahas segala sesuatu tentang shalat mayit atau jenazah. Perlu diketahui bahwa tata cara shalat ini ada perbedaan dari sisi do’a yang di bacakan terhadap mayit perempuan, mayit laki-laki demikian juga bagi mayi atau jenazah anak-anak.

Daftar Isi Artikel

Tata Cara Sholat Jenazah

Dalam melakukan shalat jenazah harus lengkap dengan segala rukun shalat jenazah. Ada perbedaan yang mendasar antara shalat jenazah dengan shalat lainnya. Dimana pada sholat jenazah tidak ada ruku’, i’tidal, dan sujud yang ada hanya berdiri saja dengan empat kali takbir, dan dalam takbir tersebut ada do’a masing-masing yang mesti baca.

Karena perbedaan yang mendasar inilah maka sebahagian ulama tidak menganggapnya sebagai shalat namun sebagai do’a, sehingga ada pendapat yang mengatakan boleh mengerjakan shalat jenazah tanpa wudhu’ namun ini pendapat lemah. Pendapat kuat, ini tetap disebut shalat dan dalam pengerjaannya, si mushalli (orang shalat jenazah) mesti ada wudhu’nya.

Tata Cara Sholat Jenazah sesuai dengan sunnah
Gambar mentajhiz mayit, Sholat Jenazah sesuai sunnah [thegorbalsla.com]

Rukun Shalat Jenazah dan Tata Cara pelaksanaannya

Berikut kita perhatikan rukun shalat jenazah serta do’a yang di bacakan dalam setiap takbirnya.

1. Niat

Niat shalat jenazah sama seperti shalat lainnya yaitu di lakukan ketika takbiratul ihram dan wajib menyertai atau bersamaan dengan takbiratul ihram. Niat tersebut mesti ada mulai ketika alif “Allahuakbar” hingga Ra “akbar”. Didalam takbir ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebagaimana pada shalat biasa yaitu Qasad: sengaja melakukan, Ta’yiin: menetukan shalat, disini yaitu shalat jenazah dan ta’radh: menentukan fardhu. Namun terhadap ta’radh ada perbedaan perndapat ulama. Ada yang mengatakan wajib ada t’aradh dan ada juga yang mengatakan tidak wajib. Khilaf yang terjadi disini sama seperti khilaf yang terjadi pada ta’radh dalam niat shalat lain.

Dalam niat shalat jenazah, orang shalat tidak wajib menta’yinkan jenazah (menentukan siapa jenazahnya) seperti si zaidun, si umar atau lain-lain. Bahkan tidak wajib menentukan apakah itu perempuan atau laki-laki, Ini tidak wajib di lakukan, namun bagus jika dilakukan.

Jika jenazah adalah laki-laki maka niatnya adalah sebagai berikut:

اُصَلِّى عَلٰى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالٰى

Niat dalam tulisan latin: Ushalli ‘ala hadzal mayyiti arba’a takbirotin fardhol kifayati ma’muman lillahi ta’ala (untuk yang tidak bisa baca aksara Arab)

Artinya: Sahaja saya shalat jenazah laki-laki ini empat takbir fardu kifayah sebagai makmum/imam, karena Allah Ta’alla.

Jika jenazahnya perempuan, maka niat shalat jenazahnya sebagaimana lafadh berikut ini:

اُصَلِّى عَلٰى هَذِهِ الْمَيْتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالٰى

Niat dalam tulisan latin: Usholli ‘ala hadzihil mayyitati arba’a takbirotin fardhol kifayati ma’amuman lillahi ta’ala (bagi yang tidak bisa membaca tulisan arab)

Sahaja saya shalat atas jenazah perempuan ini empat takbir fardhu kifayah sebagai makmum/imam karena Allah SWT

Itu adalah niat lengkap shalat jenazah, namun kita tidak wajib meniatkan jenazah tersebut siapa namanya, demikian jug apakah laki-laki atau perempuan. Maka dalam hal niat ini, seseorang boleh meniatkan secara pintas atau pendek sebagai berikut sekalipun ia seorang makmum:

اصلى على هذا الميت

Artinya: Sahaja aku shalat atas mayat ini.

Boleh juga bagi makmum meniatkan shalat jenazah sebagai niat imam, “sahaja aku shalat sebagaimana yang di niatkan oleh imam”. Minhajuth thalibin hal, 331.

Namun demikian, jika seseorang meniatkan shalat jenazah atas mayat misalnya si zaidun atau si Umar dan ternyata yang menjadi jenazah adalah di Bakar, maka shalatnya tidak sah. Demikian halnya jika ia meniatkan shalat atas jenazah perempuan dan ternyata jenazah laki-laki maka shalatnya tidak sah. Hal ini sama juga sebagaimana pada shalat lainnya.

2. Empat takbir

Empat kali takbir adalah rukun kedua sholat dalam jenazah, maka jika seseorang melakukan shalat jenazah dengan dua kali takbir atau tiga maka shalatnya tidak sah. Hadist Rasulullah SAw tentang empat kali takbir adalah hadist yang di ambil dari ibnu Abbas RA.

انه صلم صلى على قبر بعد ما دفن, فكبر عليه اربعا

Artinya: “Rasulullah SAW. shalat atas suatu kubur setelah di kebumikan, maka beliau takbir sebanyak empat kali”

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa takbir dalam shalat jenazah adalah empat kali takbir dan ini di jadikan sebagai rukun shalat jenazah.

Bagaimana jika seseorang bertakbir lima (5) kali? Berdasarkan pendapat Ashah, ini tidak membatalkan shalat karena dianggap melebihkan zikir jika di lakukan secara sengaja. Namun jika ia bertakbir lima kami karena lupa, maka ini tidak ada khilaf diantara ulama fiqh atau sepakat ulama fiqh mengatakan tidak batal.

Namun demikian, jika dilakukan secara berjamaah dan imam melakukan lima (5) kali takbir maka makmum tidak boleh mengikutinya pada takbir yang lebih tersebut berdasarkan pendapat Ashah (kuat). Kalau demikian apa yang di lakukan makmum saat imam takbir kali ke lima? Makmum boleh langsung salam atau menunggu imam untuk salam bersama imam, namun makmum tidak bertakbir untuk ke lima kali sebagaimana imam.

Lantas bagaimana do’a yang di bacakan dalam setiap takbir, mari kita perhatikan berikut ini:

Takbir pertama:

Setelah takbir pertama atau takbiratul ihram, maka wajib membaca surat al Fatihah. Surat al fatihah ini adalah salah satu rukun shalat jenazah, [nanti akan kami sebutkan lagi pada rukun ketiga]. Namun, pembacaan surat al-Fatihah bisa juga di bacakan pada takbir selain dari takbir pertama. Ini sebagaimana yang telah di tarjih oleh Imam Nawawi dalam kitab Minhajud thalibin, Berikut bunyi surat al fatihah:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ

صِرَاطَ الَّذِيۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ ۙ غَيۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا الضَّآلِّيۡنَ

Artinya:
1. Dengan nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang
2. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam
3. Maha pemurah lagi maha penyayang
4. Raja di hari pembalasan
5. Hanya kepada Engkaulah kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
6. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus
7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Takbir Kedua:

Setelah takbir kedua, orang yang melaksanakan shalat jenazah membacakan shalawat atas Rasulullah SAW. Pembacaan shalawat atas Rasulullah setelah takbir kedua adalah wajib dan ini merupakan rukun shalat janazah juga. Shalawat atas Rasulullah SAW banyak jenisnya, yang terlebih awla adalah shalawat ibrahimiyah.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Shalawat atas Nabi SAW. dengan Tulisan Latin (bagi yang tidak bisa baca aksara Arab): Allohumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad kamaa shollaita ‘alaa sayyidina Ibroohiima wa ‘alaa aali sayyidina Ibroohim. Allohumma baarik ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad kamaa baarokta ‘alaa sayyidina Ibroohiima wa ‘alaa aali sayyidina Ibroohim, innaka hamiidum majiid).

Artinya: Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Itu adalah bentuk shalawat yang lengkap untuk di bacakan. Pembacaan shalawat yang wajib atau yang merupakan rukun adalah shalawat atas Nabi SAW, sementara shalawat atas keluarga Nabi bukan Rukun shalat namun sunnat di bacakan (lebih bagus di bacakan).

Takbir Ketiga:

Setelah itu kita bertakbir kali ketiga dan kemudian daripada takbir kita membacakan do’a untuk mayat. Do’a bagi mayat pada takbir ketiga ini juga merupakan rukun shalat jenazah. Maka tidak boleh di tinggalkan, dan jika di tinggalkan maka tidak sah shalat jenazahnya. Membaca do’a atas mayit tidak boleh di lakukan pada tempat lain dan mesti pada takbir yang ketiga. Sekurang-kurang do’a yang di baca adalah اللهم ارحمه اللهم اغفرله . Jika dia laki-laki, namun jika perempuan maka digantikan dhamir “hu” menjadi “ha“.

Berikut do’a yang lebih lengkap untuk di bacakan pada takbir ketiga.

Do’a untuk jenazah Laki-laki

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَقِهِ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّار

Artinya: Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkan dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan padanya, dan luaskanlah kuburnya. Mandikan ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan dia dari berbagai kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang berwarna putih dari segala kotoran. Gantilah untuknya rumah yang lebih baik lagi dari rumahnya, dan isteri yang lebih baik dari suaminya. Serta peliharalah dia dari fitnah kubur dan azab neraka.

Do’a untuk Jenazah perempuan

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهُا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا، وَأَكْرِمْ نُزُلَهَا، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهَا، وَاغْسِلْهَا بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهَا مِنَ الذُّنُوبِ والْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهَا دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَاَهْلًا خَيْرًا مِنْ اَهْلِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا، وَقِهَا فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّار

Artinya: Ya Allah, ampuni dan rahmatilah dia. Selamatkan dan maafkanlah dia. Berilah kehormatan padanya, dan luaskanlah tempat kuburnya. Mandikan ia dengan air, salju, dan embun. Bersihkan dia dari berbagai kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang berwarna putih dari segala kotoran. Gantilah untuknya rumah yang lebih baik lagi dari rumahnya, dan suami yang lebih baik lagi dari suaminya. Serta peliharalah dia dari fitnah kubur dan azab neraka.

Takbir ke empat:

Setelah membaca do’a untuk jenazah selanjutnya, melakukan takbir ke empat dan membacakan do’a didalamnya. Ini bukan merupakan rukun shalat melainkan sunnat di bacakan, namun takbirnya adalah rukun atau wajib dilakukan.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُ

(Allohumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa taftinnaa ba’dahu waghfirlanaa walahu)

Jika jenazahnya perempuan maka digantikan dhamir “hu” menjadi “ha” sebagai berikut:

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهَا وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهَا وَ اغْفِرْ لَنَا وَلَهَا

Artinya: “Ya Allah, jangan haramkan kami dari pahalanya dan jangan cobakan kami setelah kepergiannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia”.

3. Salam

Rukun shalat jenazah yang ketiga adalah membacakan salam sebagaimana pada shalat lainnya, salam yang dimaksud adalah salam pertama, sementara salam kedua hukumnya sunnat. Berbicara tentang kesempurnaan membaca salam, pendapat yang kuat sunnat membacakan salam hingga wabarakatuh السَّلاَمُ عَلَيْكَم وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَ بَرَكَاتُهُ beda dengan shalat biasa yang hanya sampai warahmatullah saja.

4. Membaca surat al-Fatihah

Ini sebagaimana yang sudah kita jelaskan pada takbir pertama di atas

5. Shalawat atas Nabi SAW

Rukun yang kelima adalah membacakan shalawat atas Nabi SAW pada takbir yang kedua, ini sebagaimana yang telah kita jelaskan pada takbir yang kedua di atas. Shalawat kepada aal atau keluarga nabi adalah sunnat bukumnya dan bukan rukun.

6. Membacakan do’a bagi mayat

Selanjutnya yang menjadi rukun shalat jenazah adalah membacakan do’a atas jenazah sebagaimana yang telah kita jelaskan pada takbir ketiga di atas.

7. Berdiri bagi yang sanggup

Menjalankan shalat jenazah adalah sebagaimana menjalankan shalat lainnya yaitu mesti dalam keadaan berdiri kecuali tidak sanggup berdiri. Ini adalah berdasarkan pendapat Mazhab (pendapat kuat) dalam minhaju thalibin.

Sementara pendapat muqabil atau lawan dari pendapat kuat mengatakan ada jalur pendapat ashab imam syafi’e dalam menghikayah pendapat ash hab mutaqaddam. Salah satunya adalah sunnat berdiri karena seruap dengan shalat sunnat dari sisi bisa di tinggalkan. DDan pendapat satu lagi mengatakan wajib berdiri jika shalat tersebut hanya dia saja seorang yang melakukannya (terta’yin atasnya).

Baca juga: Asmaul husna, dan doa bercermin

Mengangkat dua tangan ketika takbir bukanlah merupakan rukun melainkan sunnat saja, ini berlaku pada semua takbir dalam shalat jenazah. Termasuk diantara sunnat shalat jenazah adalah mengecilkan bacaan surat fatihah baik dilakukan di siang hari atau di malam hari. Namun ada pendapat yang mengatakan sunnat jihar (membesarkan suara) jika di kerjakan malam, ini pendapat dhaif.

Sementara pembacaan do’a iftitah tidak di sunnatkan, beda dengan shalat biasa yang disunnatkan membaca. Namun pada shalat jenazah tetap disunnatkan membaca ta’awuz (a’uzubillahiminasy-syaithaanirrajiim).

Keutamaan Melaksanakan Sholat Jenzah

Mengerjakan shalat jenazah walaupun fardhu kifayah sangat besar dan luarbiasa agung di sisi Allah. Allah memberikan pahala kepada yang melakukan shalat jenazah sebesar satu qirath aatu sebesar gunung uhud. Sementara jika anda menshalatkan jenazah dan mengantarkannya hingga ke kuburan maka bertambahlah pahala menjadi dua qirath atau dua gunung uhud.

Keutamaan dan fadhilah shalat jenazah ini berdasarkan hadist Rasulullah SAW. sebagai berikut:

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ. قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

Artinya: “Siapa saja yang menshalatkan jenazah dan tidak mengantarkan hingga ke kburan maka ia mendapatkan satu qiradh. Jika ia mengiringi atau mengantarkannnyna hingga kuburan maka ia mendapatkan dua qirath. Ada sahabat bertanya, Apa itu dua qirath ya Rasulullah SAW. Rasul menjawab: yang terkecil dari keduanya adalah sebesar gunung uhud” Hadist menurut HR Muslim.

Itulah diantara kelebihan dan keutamaan shalat jenazah, semoga saja kita menjadi orang terketuk hati untuk melaksanakan shalat jenazah dan mengantarkan jenazah hingga kekuburan.

Beberapa Hadits Tentang Kematian

1. Dalam sebuah hadits yang di riwayatakan oleh Asysyhaab : Kematian yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah matinya orang-orang yang tergolong dalam Syuhada.

2. Hadits riwayat Imam Ahmad: Tak ada suatupun yang di alami manusia yang terlebih besar daripada setiap hal yang diciptakan oleh Allah, dibandingkan peristiwa kematian. Karena bagiNya kematian adalah hal yang paling ringan, dibandingkan dengan kehidupan yang harus dijalani setelah kematian.

3. Dalam hadits riwayatk Bukhari: Janganlah menginginkan kematian hanya karena sedang mengalami kesusahan atau kesulitan. Jika memang harus di lakukan, ucapkanlah “Ya Allah tetap hidupkanlah aku, dengan kehidupan yang baik bagiku. Tapi wafatkanlah aku jika itu memang yang terbaik untukku.”

4. Dalam hadits riwayat Tabrhani: Cukuplah mati sebagai pelajaran, dan cukuplah keyakinan sebagai kekayaan diri.

5. HR Ad-Dailami: Sering-seringlah mengingat kematian. Karena seseorang yang banyak mengingat kematian maka hatinya akan dihidupkan oelh Allah dan diringankan baginya rasa sakit saat kematian itu sendiri.

6. Dalam hadist riwayat Muslim: Janganlah mati kecuali dalam keadaan sedang berbaik sangka kepada Allah SWT.

10. HR Ahmad: Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah jenazah orang kafir baru saja melewati kami. Apakah kami boleh berdiri? Rasulullah pun menjawab, berdirilah. Karena sesungguhanya kamu bukan berdiri untuk menghormati jenazahnya. Tetapi untuk menghormati Yang merenggut nyawanya yaitu Allah.

7. HR Ad-Dailami: Jenazah yang sedang di dalam kuburnya sama seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia akan menantikan doa dari orang tuanya, anaknya, kawannya, atau saudaranya yang dipercayanya. Jika doa itu sampai kepadanya baginya akan lebih disukai daripada dunia dan segala isinya.

8. Mashabih Assunnah: Seorang mayit bisa disiksa didalam karena tangisan dari keluarganya. Artinya jika keluarga dari jenazah yang ditinggalkan menangis dan menjerit-jerit secara berlebihan. Namun, menangisi dengan cara yang wajar masih diperbolehkan oleh agama.